BANDUNG, (PR).-Sebanyak 90.815 peserta dinyatakan lulus pada Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) 2007. Mereka diterima di 1.799 program studi yang tersebar di PTN seluruh indonesia.
Sekretaris Eksekutif Panitia Lokal Bandung Asep Ghana Suganda, Kamis (2/8), mengatakan, untuk panitia lokal Bandung, sebanyak 8.581 orang dari 28.250 peserta yang mendaftar dinyatakan lulus. Sebanyak 1.650 orang di antaranya diterima di Institut Teknologi Bandung, 3.780 orang diterima di Universitas Padjadjaran, 2.830 diterima di Universitas Pendidikan Indonesia, dan 321 orang diterima di Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati.
”Untuk UIN yang baru tahun ini melakukan seleksi melalui SPMB, ada sedikit penambahan. Semula mereka hanya menerima 250 orang,” katanya.
Peserta yang diterima tahun ini, jumlahnya mengalami sedikit peningkatan dibandingkan dengan tahun lalu. Tahun lalu, peserta yang lulus sebanyak 7.328 orang untuk panitia lokal Bandung saja. Sementara secara nasional, peserta yang diterima tahun lalu sekitar 88.000 orang.
Selain dapat dibaca di Harian Umum Pikiran Rakyat, pengumuman SPMB juga bisa dilihat di empat perguruan tinggi negeri di Bandung melalui koran pengumuman SPMB yang dibagikan secara gratis oleh panitia lokal.
Hasil SPMB juga bisa dilihat di situs www.spmb.or.id sejak pukul 20.05 WIB. Caranya, pengguna internet memasukkan nomor peserta sebanyak 10 digit. Jika nomor yang dimasukkan ternyata diterima, akan ada jawaban bahwa nomor yang dimaksud diterima dalam nomor sekian-sekian.
Misalnya, peserta nomor 1072800602 saat dimasukkan akan mendapatkan jawaban, ”diterima di program studi 280341.” Daftar program studi tercantum dalam buku petunjuk pendaftaran SPMB. Sedangkan peserta yang tidak lolos akan mendapat jawaban, ”Maaf nomor yang Anda masukkan tidak terdapat dalam daftar peserta yang diterima.”
Semalam, sejumlah peserta SPMB tampak memenuhi warnet untuk mengakses situs tersebut. Pemandangan itu terlihat di kawasan Buahbatu dan Dipati Ukur Bandung. ”Pengguna internet memang sedikit antre karena banyak pengunjung malam ini. Dari pengunjung itu, mungkin banyak juga yang buka situs pengumuman SPMB,” ujar Agan (25), salah seorang penjaga warnet di kawasan Buahbatu.
Meski penuh, situs www.spmb.or.id dapat diakses dengan lancar. Hal tersebut diakui Nia (22), salah seorang pengunjung warnet yang membuka website SPMB. Dengan membuka website, Nia berharap bisa mengetahui hasil SPMB untuk kedua sepupunya, Gery (17) dan Dika (18) lebih cepat. ”Kirain bakal susah, ternyata sesaat setelah dimasukkan nomor peserta, hasil SPMB langsung bisa tampil di layar komputer. Alhamdulillah, keduanya diterima di ITB,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Pengurus Pusat Perhimpunan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Soesmalijah Soewondo berharap, mereka yang sudah diterima segera melakukan registrasi atau melaporkan diri ke perguruan tinggi yang bersangkutan.
"Jadwal daftar ulang bagi yang lulus bisa dilihat di perguruan tinggi Pikiran Rakyat - 3 Agustus 2007
Tampilkan postingan dengan label SPMB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPMB. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Agustus 2007
Jumat, 25 Mei 2007
Masuk UIN Kini Melalui SPMB
Khusus untuk 69 Program Studi yang Dapat Izin Dirjen Dikti
BANDUNG, (PR). Mulai tahun ajaran baru 2007/2008 penerimaan mahasiswa baru (PMB) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung dilakukan melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Terutama untuk 69 program studi (prodi) dari 6 fakultas yang sudah mendapat izin dari Direktorat Jenderal PendidikanTinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas.
Pembantu Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, M.A. menyampaikan hal itu kepada wartawan di sela-sela sosialisasi SPMB 2007/2008 di Labtek VI ITB, Selasa (22/5).
Hadir pada kesempatan tersebut Sekretaris Eksekutif Panitia SPMB Lokal Bandung Asep Gana Suganda, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB Prof. Dr. Ir. Adang Surahman, M.Sc., Pembantu Rektor I Bidang Akademik Unpad Prof. Dr. Ponpon Idjradinata, dan Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Utari Sumarmo.
Rachmat menjelaskan, sebagai pendatang baru dalam penyelenggaraan SPMB, UIN hanya menjaring calon mahasiswa baru dari prodi kategori umum, yakni prodi sosiologi (Fak. Ushuludin), prodi ilmu hukum (Fak. Syari’ah dan Hukum), prodi ilmu komunikasi (Fak. Dakwah & Komunikasi), prodi bahasa dan sastra Inggris ( Fak. Adab dan Humaniora), prodi psikologi (Fak. Psikologi), dan prodi teknik informatika, pertanian, matematika, biologi (Fak. Sains dan Teknologi).
Semua prodi tersebut telah mendapat izin dari Ditjen Dikti Depdiknas untuk menjaring mahasiswa baru melalui SPMB. Sedangkan prodi lain yang bersifat keagamaan, tidak masuk SPMB karena berada di bawah Departemen Agama.
Jumlah mahasiswa baru yang akan diterima UIN lewat SPMB sebanyak 251 orang. Dengan perincian Fak. Ushuludin 15 orang, Fak. Syari’ah dan Hukum 40 orang, Fak. Dakwah dan Komunikasi 40 orang, Fak. Adab dan Humaniora 40 orang, Fak. Psikologi 40 orang, dan Fak. Sains dan Teknologi 76 orang.
Waktu pengedaran formulir, pendaftaran, pengembalian formulir, dan pelaksanaan ujian tulis (utul) SPMB UIN, sama dengan jadwal yang diberlakukan panitia SPMB Lokal Bandung.
Perketat prosedur
Sementara itu, Asep Gana menjelaskan, jumlah total mahasiswa baru yang akan diterima di 4 PTN di Bandung adalah, Unpad 7.021 (3.706 dari SPMB dan 3.315 dari non-SPMB), ITB 2.995 (1.640 dari SPMB dan 1.355 dari non-SPMB), UPI 5.890 (2.770 dari SPMB dan 3.120 dari non-SPMB), serta UIN 3.280 (251 dari SPMB dan 3.029 dari non-SPMB).
Jumlah total formulir SPMB yang disediakan mencapai 28.500 lembar. Jumlah tersebut terbagi, kelompok IPA 10.000 lembar, kelompok IPS 11.300 lembar, dan kelompok IPC 7.200 lembar.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang semakin berkurangnya jumlah penerimaan mahasiswa baru dari jalur SPMB dibandingkan dengan non-SPMB, Asep Gana menyebutkan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan PTN menerima mahasiswa lebih banyak daripada jalur SPMB. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan dari Dikti tetapi berasal dari paguyuban saja.
“Jadi, kalau suatu ketika SPMB tidak ada pun, bisa saja terjadi. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan yang diharuskan oleh Dikti atau pemerintah tetapi oleh paguyuban,” ujarnya menambahkan.
Perihal pengamanan SPMB dari perjokian, Asep mengatakan, panitia akan memperketat sistem prosedur. Namun tidak akan menambah jumlah petugas pengamanan. Panitia juga tidak akan menyediakan alat detektor untuk mendeteksi berbagai kemungkinan terjadinya kecurangan.
”Harganya mahal, makanya kita hanya akan memperketat prosedurnya. Bukan pada penambahan jumlah petugas pengamanan ataupun pengadaan alat,” katanya menambahkan. (A-148)*** - PIKIRAN RAKYAT - Jumat, 25 Mei 2007
BANDUNG, (PR). Mulai tahun ajaran baru 2007/2008 penerimaan mahasiswa baru (PMB) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung dilakukan melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Terutama untuk 69 program studi (prodi) dari 6 fakultas yang sudah mendapat izin dari Direktorat Jenderal PendidikanTinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas.
Pembantu Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, M.A. menyampaikan hal itu kepada wartawan di sela-sela sosialisasi SPMB 2007/2008 di Labtek VI ITB, Selasa (22/5).
Hadir pada kesempatan tersebut Sekretaris Eksekutif Panitia SPMB Lokal Bandung Asep Gana Suganda, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB Prof. Dr. Ir. Adang Surahman, M.Sc., Pembantu Rektor I Bidang Akademik Unpad Prof. Dr. Ponpon Idjradinata, dan Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Utari Sumarmo.
Rachmat menjelaskan, sebagai pendatang baru dalam penyelenggaraan SPMB, UIN hanya menjaring calon mahasiswa baru dari prodi kategori umum, yakni prodi sosiologi (Fak. Ushuludin), prodi ilmu hukum (Fak. Syari’ah dan Hukum), prodi ilmu komunikasi (Fak. Dakwah & Komunikasi), prodi bahasa dan sastra Inggris ( Fak. Adab dan Humaniora), prodi psikologi (Fak. Psikologi), dan prodi teknik informatika, pertanian, matematika, biologi (Fak. Sains dan Teknologi).
Semua prodi tersebut telah mendapat izin dari Ditjen Dikti Depdiknas untuk menjaring mahasiswa baru melalui SPMB. Sedangkan prodi lain yang bersifat keagamaan, tidak masuk SPMB karena berada di bawah Departemen Agama.
Jumlah mahasiswa baru yang akan diterima UIN lewat SPMB sebanyak 251 orang. Dengan perincian Fak. Ushuludin 15 orang, Fak. Syari’ah dan Hukum 40 orang, Fak. Dakwah dan Komunikasi 40 orang, Fak. Adab dan Humaniora 40 orang, Fak. Psikologi 40 orang, dan Fak. Sains dan Teknologi 76 orang.
Waktu pengedaran formulir, pendaftaran, pengembalian formulir, dan pelaksanaan ujian tulis (utul) SPMB UIN, sama dengan jadwal yang diberlakukan panitia SPMB Lokal Bandung.
Perketat prosedur
Sementara itu, Asep Gana menjelaskan, jumlah total mahasiswa baru yang akan diterima di 4 PTN di Bandung adalah, Unpad 7.021 (3.706 dari SPMB dan 3.315 dari non-SPMB), ITB 2.995 (1.640 dari SPMB dan 1.355 dari non-SPMB), UPI 5.890 (2.770 dari SPMB dan 3.120 dari non-SPMB), serta UIN 3.280 (251 dari SPMB dan 3.029 dari non-SPMB).
Jumlah total formulir SPMB yang disediakan mencapai 28.500 lembar. Jumlah tersebut terbagi, kelompok IPA 10.000 lembar, kelompok IPS 11.300 lembar, dan kelompok IPC 7.200 lembar.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang semakin berkurangnya jumlah penerimaan mahasiswa baru dari jalur SPMB dibandingkan dengan non-SPMB, Asep Gana menyebutkan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan PTN menerima mahasiswa lebih banyak daripada jalur SPMB. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan dari Dikti tetapi berasal dari paguyuban saja.
“Jadi, kalau suatu ketika SPMB tidak ada pun, bisa saja terjadi. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan yang diharuskan oleh Dikti atau pemerintah tetapi oleh paguyuban,” ujarnya menambahkan.
Perihal pengamanan SPMB dari perjokian, Asep mengatakan, panitia akan memperketat sistem prosedur. Namun tidak akan menambah jumlah petugas pengamanan. Panitia juga tidak akan menyediakan alat detektor untuk mendeteksi berbagai kemungkinan terjadinya kecurangan.
”Harganya mahal, makanya kita hanya akan memperketat prosedurnya. Bukan pada penambahan jumlah petugas pengamanan ataupun pengadaan alat,” katanya menambahkan. (A-148)*** - PIKIRAN RAKYAT - Jumat, 25 Mei 2007
Kamis, 01 Juli 2004
Bimbel Marak Saat SPMB
SETIAP tahun pasti ada masa ketika pusat bimbingan belajar (bimbel) kebanjiran siswa baru. Waktunya, kapan lagi kalau bukan menjelang SPMB.
Siswa SMA yang memiliki kemampuan finansial lebih, hampir dapat dipastikan bakal mengikuti bimbel ini. Tujuannya, tentu saja agar kesempatan lolos SPMB menjadi lebih besar. Pusat-pusat bimbel memang menjanjikan kesempatan yang lebih besar bagi siswanya untuk lulus SPMB, terutama mereka yang sudah mapan seperti SSC atau Ganesha Operation (GO).
Jika siswa tidak lulus SPMB, ada komponen uang pendidikan yang dijanjikan akan kembali.
Dengan janji seperti itu, ditambah lagi bukti di lapangan, telah semakin meningkatkan minat siswa untuk mengikuti bimbel. Seperti yang dikatakan oleh Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W. R beberapa waktu lalu, jumlah siswa SSC mengalami peningkatan sebanyak 23 persen dari tahun lalu. Untuk kelas intensifnya saja, SSC sudah menampung sekira 3.500 siswa. Sementara siswa GO di seluruh Indonesia saat ini telah menembus angka 45.000 orang.
Siswa yang mendaftar ke bimbel akan semakin ramai ketika SPMB semakin mendekat. Biasanya mereka mendaftar setelah lulus SMA agar lebih fokus mempelajari mata pelajaran yang diujikan di SPMB. "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Yandi.
Tidak hanya siswa yang baru lulus saja yang tertarik mengikuti bimbel, angkatan lama yang masih punya kesempatan mengikuti SPMB juga tidak sedikit yang tertarik. Kelas untuk mereka biasanya disebut kelas alumni.
Kenapa siswa-siswa ini tertarik mengikuti bimbel? Pimpinan GO, Bob Foster memiliki jawaban yang cukup mewakili. Bob mengatakan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, merasa belum percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finansial yang lebih.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB, misalnya menjawab soal dengan cara cepat. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Dari seberang
Walaupun setiap tahun peserta SPMB selalu mengalami penurunan, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah peserta bimbel. Seperti dijelaskan Bob Foster, sulit untuk membuat korelasi turunnya peserta SPMB dengan peserta bimbel yang rata-rata konstan atau malah cenderung meningkat.
Bagi pusat bimbel seperti SSC dan GO yang berkantor pusat di Bandung, setiap tahun mereka selalu mendapatkan siswa dari luar daerah yang sengaja datang ke Bandung, hanya untuk mengikuti bimbel di kota ini.
Alasannya pun bermacam-macam, tapi selalu ada jawaban yang hampir mirip, bimbel di pusat akan lebih afdal dan terjamin. Tidak sedikit yang sengaja datang dari daerah seberang seperti Kalimantan atau Sumatera, padahal di kota-kota tempat mereka tinggal, GO dan SSC rata-rata sudah mendirikan pusat bimbel juga. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih meyakinkan, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujar Yandi W.R.
Lalu bagaimana dengan persaingan antarpusat-pusat bimbel? Mengenai persaingan, Bob Foster mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. (Zaky/"PR")*** - Pikiran Rakyat - 1 Juli 2004
Siswa SMA yang memiliki kemampuan finansial lebih, hampir dapat dipastikan bakal mengikuti bimbel ini. Tujuannya, tentu saja agar kesempatan lolos SPMB menjadi lebih besar. Pusat-pusat bimbel memang menjanjikan kesempatan yang lebih besar bagi siswanya untuk lulus SPMB, terutama mereka yang sudah mapan seperti SSC atau Ganesha Operation (GO).
Jika siswa tidak lulus SPMB, ada komponen uang pendidikan yang dijanjikan akan kembali.
Dengan janji seperti itu, ditambah lagi bukti di lapangan, telah semakin meningkatkan minat siswa untuk mengikuti bimbel. Seperti yang dikatakan oleh Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W. R beberapa waktu lalu, jumlah siswa SSC mengalami peningkatan sebanyak 23 persen dari tahun lalu. Untuk kelas intensifnya saja, SSC sudah menampung sekira 3.500 siswa. Sementara siswa GO di seluruh Indonesia saat ini telah menembus angka 45.000 orang.
Siswa yang mendaftar ke bimbel akan semakin ramai ketika SPMB semakin mendekat. Biasanya mereka mendaftar setelah lulus SMA agar lebih fokus mempelajari mata pelajaran yang diujikan di SPMB. "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Yandi.
Tidak hanya siswa yang baru lulus saja yang tertarik mengikuti bimbel, angkatan lama yang masih punya kesempatan mengikuti SPMB juga tidak sedikit yang tertarik. Kelas untuk mereka biasanya disebut kelas alumni.
Kenapa siswa-siswa ini tertarik mengikuti bimbel? Pimpinan GO, Bob Foster memiliki jawaban yang cukup mewakili. Bob mengatakan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, merasa belum percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finansial yang lebih.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB, misalnya menjawab soal dengan cara cepat. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Dari seberang
Walaupun setiap tahun peserta SPMB selalu mengalami penurunan, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah peserta bimbel. Seperti dijelaskan Bob Foster, sulit untuk membuat korelasi turunnya peserta SPMB dengan peserta bimbel yang rata-rata konstan atau malah cenderung meningkat.
Bagi pusat bimbel seperti SSC dan GO yang berkantor pusat di Bandung, setiap tahun mereka selalu mendapatkan siswa dari luar daerah yang sengaja datang ke Bandung, hanya untuk mengikuti bimbel di kota ini.
Alasannya pun bermacam-macam, tapi selalu ada jawaban yang hampir mirip, bimbel di pusat akan lebih afdal dan terjamin. Tidak sedikit yang sengaja datang dari daerah seberang seperti Kalimantan atau Sumatera, padahal di kota-kota tempat mereka tinggal, GO dan SSC rata-rata sudah mendirikan pusat bimbel juga. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih meyakinkan, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujar Yandi W.R.
Lalu bagaimana dengan persaingan antarpusat-pusat bimbel? Mengenai persaingan, Bob Foster mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. (Zaky/"PR")*** - Pikiran Rakyat - 1 Juli 2004
Kamis, 24 Juni 2004
Meningkat, Siswa Ikut Bimbel
Meningkat, Siswa Ikut Bimbel
Terutama Mendekati Jadwal Ujian SPMB
BANDUNG, (PR).-Semakin mendekatnya jadwal ujian SPMB telah meningkatkan jumlah siswa yang mengikuti bimbingan belajar (bimbel). "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W.R, beberapa hari lalu.
Yandi mengatakan, hingga saat ini jumlah siswa yang mengikuti kelas intensif di SSC telah mencapai 3.500 orang. Jumlah tersebut naik sekira 23 persen dari tahun lalu. Begitu pula dengan mereka yang masuk kelas alumni, yaitu kelas yang diperuntukkan bagi lulusan SMA tahun 2002 atau 2003. "Tapi jumlahnya masih lebih banyak yang lulus tahun ini," ujarnya.
Di SSC, komposisi siswa lebih banyak yang memilih kelas IPA dibanding IPS dan IPC. Para siswa juga tidak sedikit yang sengaja datang dari luar daerah seperti Medan, Jakarta, atau Kediri. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih yakin, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujarnya.
Sementara itu, pimpinan pusat bimbingan belajar Ganesha Operation (GO), Bob Foster mengatakan, penurunan jumlah peserta SPMB setiap tahun tidak berkorelasi secara langsung dengan jumlah peserta bimbel. Menurutnya, hingga saat ini siswa GO di seluruh Indonesia mencapai 45 ribu orang dan setiap tahun relatif konstan jumlahnya.
"Penurunan jumlah peserta SPMB tidak berarti terjadi juga penurunan siginifikan terhadap siswa bimbel, karena sejak dulu pun tidak semua (352 ribu orang peserta SPMB tahun lalu--red.) ikut bimbel. Yang ikut bimbel relatif konstan saja, jadi tidak berkorelasi langsung bahwa peserta SPMB turun lantas peserta bimbel ikut turun," jelasnya.
Ia melanjutkan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, belum merasa percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finasial yang lebih. Karena itu, pihak penyelenggara bimbel pun berani menjanjikan kelulusan atau setidaknya menjanjikan peluang kelulusan yang lebih besar bagi siswanya.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Strategi pertama yang harus dimiliki siswa, ujar Bob, adalah pemahaman tentang persyaratan administrasi, seperti pengisian formulir hingga cara menghitamkan kode pada lembar jawaban. Berdasarkan data yang ia ketahui dari Puskom Universitas Indonesia, ternyata banyak kesalahan yang dilakukan peserta SPMB yang berakibat fatal misalnya, pilihan perguruan tinggi yang berada di luar regionalnya atau lupa mengisi kode nomor ujian. "Kalau gagal administratif, akan gagal semua," ujarnya.
Strategi kedua adalah, siswa harus paham materi uji SPMB. Menurut Bob, ada pelajaran-pelajaran dan mata uji yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, misalnya IPA Terpadu atau IPS Terpadu. Pusat bimbel mengambil kesempatan ini, dengan memberikan materi tersebut kepada siswanya, disertai trik dan cara mengerjakannya secara cepat. "Ada soal-soal tertentu yang mengerjakannya harus secara khusus agar kita langsung tahu jawabannya. Memang tidak semua soal seperti itu, tapi lumayan banyak," jelasnya.
Stategi ketiga menurut Bob adalah tentang pemilihan jurusan. Sebab, dalam SPMB peserta sudah harus menentukan jurusan yang dipilihnya sebelum ujian dilakukan. "Karena itu harus ada yang membimbing mereka untuk memberikan arahan. Saya tidak melihat hal seperti itu dilakukan di sekolah," ujarnya.
Mengenai persaingan antara pusat bimbingan belajar, Bob mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. "Kalau tidak ada pesaing, bagaimana kita akan terpacu untuk meningkatkan pelayanan," ujarnya. (A-132)*** - PIKIRAN RAKYAT - Kamis, 24 Juni 2004
Terutama Mendekati Jadwal Ujian SPMB
BANDUNG, (PR).-Semakin mendekatnya jadwal ujian SPMB telah meningkatkan jumlah siswa yang mengikuti bimbingan belajar (bimbel). "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W.R, beberapa hari lalu.
Yandi mengatakan, hingga saat ini jumlah siswa yang mengikuti kelas intensif di SSC telah mencapai 3.500 orang. Jumlah tersebut naik sekira 23 persen dari tahun lalu. Begitu pula dengan mereka yang masuk kelas alumni, yaitu kelas yang diperuntukkan bagi lulusan SMA tahun 2002 atau 2003. "Tapi jumlahnya masih lebih banyak yang lulus tahun ini," ujarnya.
Di SSC, komposisi siswa lebih banyak yang memilih kelas IPA dibanding IPS dan IPC. Para siswa juga tidak sedikit yang sengaja datang dari luar daerah seperti Medan, Jakarta, atau Kediri. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih yakin, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujarnya.
Sementara itu, pimpinan pusat bimbingan belajar Ganesha Operation (GO), Bob Foster mengatakan, penurunan jumlah peserta SPMB setiap tahun tidak berkorelasi secara langsung dengan jumlah peserta bimbel. Menurutnya, hingga saat ini siswa GO di seluruh Indonesia mencapai 45 ribu orang dan setiap tahun relatif konstan jumlahnya.
"Penurunan jumlah peserta SPMB tidak berarti terjadi juga penurunan siginifikan terhadap siswa bimbel, karena sejak dulu pun tidak semua (352 ribu orang peserta SPMB tahun lalu--red.) ikut bimbel. Yang ikut bimbel relatif konstan saja, jadi tidak berkorelasi langsung bahwa peserta SPMB turun lantas peserta bimbel ikut turun," jelasnya.
Ia melanjutkan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, belum merasa percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finasial yang lebih. Karena itu, pihak penyelenggara bimbel pun berani menjanjikan kelulusan atau setidaknya menjanjikan peluang kelulusan yang lebih besar bagi siswanya.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Strategi pertama yang harus dimiliki siswa, ujar Bob, adalah pemahaman tentang persyaratan administrasi, seperti pengisian formulir hingga cara menghitamkan kode pada lembar jawaban. Berdasarkan data yang ia ketahui dari Puskom Universitas Indonesia, ternyata banyak kesalahan yang dilakukan peserta SPMB yang berakibat fatal misalnya, pilihan perguruan tinggi yang berada di luar regionalnya atau lupa mengisi kode nomor ujian. "Kalau gagal administratif, akan gagal semua," ujarnya.
Strategi kedua adalah, siswa harus paham materi uji SPMB. Menurut Bob, ada pelajaran-pelajaran dan mata uji yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, misalnya IPA Terpadu atau IPS Terpadu. Pusat bimbel mengambil kesempatan ini, dengan memberikan materi tersebut kepada siswanya, disertai trik dan cara mengerjakannya secara cepat. "Ada soal-soal tertentu yang mengerjakannya harus secara khusus agar kita langsung tahu jawabannya. Memang tidak semua soal seperti itu, tapi lumayan banyak," jelasnya.
Stategi ketiga menurut Bob adalah tentang pemilihan jurusan. Sebab, dalam SPMB peserta sudah harus menentukan jurusan yang dipilihnya sebelum ujian dilakukan. "Karena itu harus ada yang membimbing mereka untuk memberikan arahan. Saya tidak melihat hal seperti itu dilakukan di sekolah," ujarnya.
Mengenai persaingan antara pusat bimbingan belajar, Bob mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. "Kalau tidak ada pesaing, bagaimana kita akan terpacu untuk meningkatkan pelayanan," ujarnya. (A-132)*** - PIKIRAN RAKYAT - Kamis, 24 Juni 2004
Langganan:
Postingan (Atom)