Kamis, 12 Juli 2007

Jumat, 25 Mei 2007

Masuk UIN Kini Melalui SPMB

Khusus untuk 69 Program Studi yang Dapat Izin Dirjen Dikti

BANDUNG, (PR). Mulai tahun ajaran baru 2007/2008 penerimaan mahasiswa baru (PMB) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung dilakukan melalui seleksi penerimaan mahasiswa baru (SPMB). Terutama untuk 69 program studi (prodi) dari 6 fakultas yang sudah mendapat izin dari Direktorat Jenderal PendidikanTinggi (Ditjen Dikti) Depdiknas.
Pembantu Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung Prof. Dr. H. Rachmat Syafe’i, M.A. menyampaikan hal itu kepada wartawan di sela-sela sosialisasi SPMB 2007/2008 di Labtek VI ITB, Selasa (22/5).
Hadir pada kesempatan tersebut Sekretaris Eksekutif Panitia SPMB Lokal Bandung Asep Gana Suganda, Wakil Rektor Senior Bidang Akademik ITB Prof. Dr. Ir. Adang Surahman, M.Sc., Pembantu Rektor I Bidang Akademik Unpad Prof. Dr. Ponpon Idjradinata, dan Pembantu Rektor I Bidang Akademik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Dr. Utari Sumarmo.
Rachmat menjelaskan, sebagai pendatang baru dalam penyelenggaraan SPMB, UIN hanya menjaring calon mahasiswa baru dari prodi kategori umum, yakni prodi sosiologi (Fak. Ushuludin), prodi ilmu hukum (Fak. Syari’ah dan Hukum), prodi ilmu komunikasi (Fak. Dakwah & Komunikasi), prodi bahasa dan sastra Inggris ( Fak. Adab dan Humaniora), prodi psikologi (Fak. Psikologi), dan prodi teknik informatika, pertanian, matematika, biologi (Fak. Sains dan Teknologi).
Semua prodi tersebut telah mendapat izin dari Ditjen Dikti Depdiknas untuk menjaring mahasiswa baru melalui SPMB. Sedangkan prodi lain yang bersifat keagamaan, tidak masuk SPMB karena berada di bawah Departemen Agama.
Jumlah mahasiswa baru yang akan diterima UIN lewat SPMB sebanyak 251 orang. Dengan perincian Fak. Ushuludin 15 orang, Fak. Syari’ah dan Hukum 40 orang, Fak. Dakwah dan Komunikasi 40 orang, Fak. Adab dan Humaniora 40 orang, Fak. Psikologi 40 orang, dan Fak. Sains dan Teknologi 76 orang.
Waktu pengedaran formulir, pendaftaran, pengembalian formulir, dan pelaksanaan ujian tulis (utul) SPMB UIN, sama dengan jadwal yang diberlakukan panitia SPMB Lokal Bandung.
Perketat prosedur
Sementara itu, Asep Gana menjelaskan, jumlah total mahasiswa baru yang akan diterima di 4 PTN di Bandung adalah, Unpad 7.021 (3.706 dari SPMB dan 3.315 dari non-SPMB), ITB 2.995 (1.640 dari SPMB dan 1.355 dari non-SPMB), UPI 5.890 (2.770 dari SPMB dan 3.120 dari non-SPMB), serta UIN 3.280 (251 dari SPMB dan 3.029 dari non-SPMB).
Jumlah total formulir SPMB yang disediakan mencapai 28.500 lembar. Jumlah tersebut terbagi, kelompok IPA 10.000 lembar, kelompok IPS 11.300 lembar, dan kelompok IPC 7.200 lembar.
Menjawab pertanyaan wartawan tentang semakin berkurangnya jumlah penerimaan mahasiswa baru dari jalur SPMB dibandingkan dengan non-SPMB, Asep Gana menyebutkan, tidak ada ketentuan yang mengharuskan PTN menerima mahasiswa lebih banyak daripada jalur SPMB. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan dari Dikti tetapi berasal dari paguyuban saja.
“Jadi, kalau suatu ketika SPMB tidak ada pun, bisa saja terjadi. Karena pelaksanaan SPMB bukan ketentuan yang diharuskan oleh Dikti atau pemerintah tetapi oleh paguyuban,” ujarnya menambahkan.
Perihal pengamanan SPMB dari perjokian, Asep mengatakan, panitia akan memperketat sistem prosedur. Namun tidak akan menambah jumlah petugas pengamanan. Panitia juga tidak akan menyediakan alat detektor untuk mendeteksi berbagai kemungkinan terjadinya kecurangan.
”Harganya mahal, makanya kita hanya akan memperketat prosedurnya. Bukan pada penambahan jumlah petugas pengamanan ataupun pengadaan alat,” katanya menambahkan. (A-148)*** - PIKIRAN RAKYAT - Jumat, 25 Mei 2007

Selasa, 10 April 2007

Kekhawatiran Menghadapi Ujian Nasional 2007

Oleh : MAMAN, S.Pd.

SETIDAKNYA ada empat hal yang khas dalam Ujian Nasional (UN) 2007, yang membedakannya dari UN tahun-tahun sebelumnya. Pertama, kriteria kelulusan peserta UN yang mensyaratkan siswa memiliki nilai rata-rata 5,00.
Para siswa juga disyaratkan memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dengan nilai dua mata pelajaran lainnya minimal 6,00. Misalnya, jika matematika mendapatkan nilai 4,25, bahasa Inggris 5,75, dan bahasa Indonesia 5,00 siswa tersebut dinyatakan lulus. Atau, matematika mendapatkan nilai 4,00; bahasa Inggris dan bahasa Indonesia masing-masing mendapatkan 6,00 maka siswa tersebut dinyatakan lulus. Jika kriteria minimal seperti itu tidak dapat dicapai, siswa yang bersangkutan dinyatakan tidak lulus.
Kedua, paket soal dalam UN 2007 terdiri atas dua jenis, masing-masing dinamakan paket A dan paket B. Ini berlaku dalam setiap ruangan. Artinya, dalam satu ruangan ujian, yang terdiri atas maksimal 20 peserta, peserta UN dibagi dua, 10 orang mendapatkan soal paket A, dan 10 orang lainnya mendapatkan soal paket B. Ketentuannya, peserta nomor ganjil mendapatkan soal paket A dan peserta nomor genap mendapatkan soal paket B.
Skema ini merupakan ketentuan baku, yaitu nomor peserta diurut menyamping, kemudian ke belakang, ke samping lagi, ke belakang lagi dan seterusnya dengan membentuk leter S. Dengan demikian, masing-masing paket soal beredar dalam posisi diagonal. Dan, masing-masing peserta UN akan mendapatkan soal yang berbeda dengan teman di samping kanan dan kirinya, berbeda pula dengan teman di depan atau di belakangnya. Sebagai contoh, peserta nomor 002, yang mendapatkan soal paket B, akan berbeda dengan teman di belakangnya (nomor 007), berbeda dengan teman di samping kirinya (nomor 003), dan berbeda pula dengan teman di samping kanannya (nomor 001).
Ketiga, sistem pengawasan dan pengumpulan lembar jawaban seusai ujian. Jika pada tahun-tahun yang lalu pengawas hanya bertugas membagikan soal dan lembar jawaban, mengumpulkan lembar jawaban secara berurut, kemudian menyetorkannya ke panitia; sekarang mereka mendapatkan tugas baru. Setelah lembar jawaban dikumpulkan dan disusun secara berurut, sang pengawas harus langsung memasukkannya ke dalam amplop lembar jawaban dan mengelemnya rapat-rapat. Dengan demikian, panitia tidak dapat memeriksa atau mengurutkan ulang. Panitia hanya menerima lembar jawaban dari pengawas dalam keadaan amplop tertutup rapat dan harus langsung disetorkan ke panitia tingkat kabupaten/kota.
Keempat, peserta UN yang tidak lulus harus mengulang UN pada tahun berikutnya. Hal ini berbeda dengan tahun lalu ketika peserta UN masih bisa mengikuti ujian ulang sebulan berikutnya apabila pada ujian utama tidak lulus. Kalaupun terpaksa ingin segera memiliki ijazah setingkat SMA, misalnya, mereka boleh mengikuti ujian program paket C. Hanya, rasanya menyakitkan. Bersekolah bertahun-tahun di SMA, sementara ijazah didapatkan di program paket C, yang notabene berada di luar jalur sekolah.
Keempat hal di atas, di satu sisi merupakan satu langkah maju. Namun di sisi lain, hal itu tak kurang mengkhawatirkan. Kriteria kelulusan tetap saja membuat waswas peserta UN karena harus mengejar target nilai semacam demikian. Selanjutnya, perbedaan paket soal akan cukup merepotkan panitia maupun pengawas. Panitia harus memilah dulu mana soal paket A dan mana soal paket B. Begitupun dengan pengawas ruangan. Harus benar-benar jeli jangan sampai salah memberikan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah apabila seorang peserta UN tidak mencapai angka nilai yang masuk kriteria minimal kelulusan. Ia tidak dapat memperoleh ijazah, juga tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dan harus mengulang UN pada tahun 2008 mendatang. Ketentuan boleh beralih ke paket B (bagi siswa SMP), atau paket C (bagi siswa SMA), tentu bukan solusi yang menggembirakan.
Namun bagaimanapun, pemerintah telah menetapkan ketentuan demikian. Dan siapa pun harus mengikutinya. Kita berdoa saja semoga kekhawatiran-kekhawatiran seperti di atas tidak teralami. Mudah-mudahan!***

Penulis, guru bahasa dan sastra Indonesia SMAN 1 Kadugede, Kab. Kuningan, Jawa Barat. Harian PIKIRAN RAKYAT Selasa, 10 April 2007

Senin, 19 Juni 2006

Perlu Strategi Pilih Program Studi

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) merupakan salah satu PT (perguruan tinggi) pertama yang mengimplementasikan PP (Peraturan Pemerintah) No. 61/1999 yang mengharuskan PTN melaksanakan otonomi kampus. Implikasi dari PP tersebut, ITB mengubah statusnya dari semula PTN yang amat bergantung pada subsidi pemerintah menjadi PT BHMN (Badan Hukum Milik Negara) yang berupaya untuk mengelola pembiayaan penyelenggaraan PT secara mandiri, di antaranya dengan merekrut mahasiswa baru melalui seleksi mandiri.
Program seleksi mandiri di ITB tersebut dinamakan USM-ITB Terpadu yang terdiri dari 3 jalur, yaitu jalur Penelusuran Minat Bakat dan Potensi (PMBP), jalur penerimaan Fakultas Seni Rupa dan Desain (UMFSRD), dan jalur Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM).
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini ITB sudah melaksanakan seleksi mandiri, rekrutmen mahasiswa baru melalui jalur SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) masih tetap dilakukan. Bahkan, kuota mahasiswa untuk jalur SPMB masih lebih besar dibandingkan seleksi mandiri.
Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Ir. Adang Surahman, kuota untuk mahasiswa jalur USM sebesar 30% dari seluruh daya tampung. Pada 2006 ini, kuota untuk jalur SPMB mencapai 1.745 mahasiswa. Jumlah ini turun dibandingkan kuota tahun lalu sebesar 1.905 orang.
Pengurangan kuota tersebut, kata Adang, terkait dengan penggabungan sejumlah program studi (prodi) menjadi fakultas/sekolah. Sebagai contoh, prodi Geofisika, Metereologi, Oseanografi, Teknik Geofisika, Teknik Geologi, Teknik Perminyakan, dan Teknik Pertambangan bergabung menjadi Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM).
**

Berkenaan dengan masih dipertahankannya jalur SPMB, Adang menjelaskan, hal itu merupakan upaya ITB memberikan akses kepada masyarakat luas yang tidak mampu secara finansial untuk dapat kuliah di ITB. Karena itu, biaya kuliah yang ditanggung calon mahasiswa (cama) yang lulus SPMB jauh lebih murah dibandingkan jalur USM-ITB Terpadu.
Sebagai contoh, cama yang lulus melalui jalur USM PMBP, selain membayar BPPP (Biaya Penyelenggaraan Pendidikan Pokok) yang besarnya Rp 2 juta per semester, diharuskan pula membayar SDPA (Sumbangan Dana Pengembangan Akademik) minimal sebesar Rp 45 juta. Sementara cama yang lulus SPMB cukup membayar BPPP, karena sebagian besar biaya kuliah melalui jalur ini masih disubsidi pemerintah dan ITB.
Karena itu, kata Adang, masyarakat kaya yang berminat kuliah di ITB seharusnya mendaftar melalui jalur USM bukan SPMB. "Dalam hal ini memang dibutuhkan keikhlasan masyarakat mampu, agar mereka ini sepenuhnya mendaftar melalui USM," kata Adang saat ditemui di kantornya, Jln. Taman Sari, Bandung, Jumat (16/6).
Dijelaskan Adang, biaya kuliah di ITB idealnya adalah Rp 18 juta per mahasiswa per tahun. Dengan demikian, biaya yang harus dikeluarkan untuk perkuliahan satu orang mahasiswa dengan asumsi selama empat tahun mengikuti (program S1) adalah Rp 18 juta dikali 4 atau sebesar Rp 72 juta. Jadi, kata Adang, sebagian besar mahasiswa jalur USM yang membayar SDPA Rp 45 juta pun masih tetap disubsidi oleh ITB.
Selama ini, sumber dana untuk biaya operasional penyelenggaraan pendidikan di ITB berasal dari tiga komponen, yaitu 25% dari pemerintah, 50% dari kerja sama penelitian yang dilakukan ITB dengan sejumlah mitranya, dan 25% lainnya dari orang tua mahasiswa.
**

Terkait dengan perubahan organisasi sejumlah prodi di ITB, maka pada buku panduan SPMB tahun ini, ITB sudah mencantumkan daya tampung per fakultas. Meskipun demikian, untuk sejumlah prodi tertentu seperti Teknik Kimia, Teknik Industri, dan Arsitektur, masih dicantumkan daya tampung per prodi. Bahkan, untuk ke depan, kata Adang, dalam buku panduan SPMB, ITB hanya akan mencantumkan daya tampung PT saja sebagaimana dilakukan oleh IPB sejak tahun lalu.
Dalam buku panduan SPMB 2006, IPB hanya mencantumkan daya tampung sebanyak 1.000 orang tanpa rincian berapa yang akan dialokasikan untuk setiap prodi.
Dengan adanya perubahan tersebut, kata Adang, mahasiswa ITB mulai dijuruskan pada prodi yang diminatinya pada tahun kedua. Sementara pada tahun pertama semua cama wajib mengikuti TPB (Tahap Persiapan Bersama). Dengan demikian, mahasiswa yang misalnya diterima di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (sebelumnya bernama Departemen Biologi), pada tahun pertama masih mempelajari materi umum. Tetapi, pada tahun kedua mahasiswa mulai diarahkan ke prodi yang diminatinya, yakni biologi atau mikrobiologi.
Bahkan mulai tahun ajaran 2008, ITB akan membuka program mayor dan minor. Sistem ini, kata Adang, memungkinkan cama mengambil sejumlah mata kuliah dari berbagai prodi, dengan ketentuan rasio antara program mayor dan minor, 70% berbanding 30%. Misalnya, mahasiswa yang program mayornya adalah prodi bioteknologi bisa mengambil program minor pada prodi teknik kimia.
Dengan demikian, kata Adang, cama yang saat seleksi tidak diterima pada prodi yang diminatinya, melalui program mayor dan minor tersebut, cama bisa mengambil sejumlah mata kuliah pada prodi yang diminatinya.
Perubahan-perubahan baik itu yang telah berlangsung maupun yang akan dilakukan nanti tidak lepas dari upaya ITB untuk terus meningkatkan kualitas akademiknya. Apalagi pada tahun 2010, ITB akan menjadi universitas berbasis riset. Dalam hal penjaminan mutu ITB ini, ada sejumlah parameter yang menjadi target mutu ITB, di antaranya persentase lulusan ITB yang memiliki IP(indeks prestasi) 3 harus mencapai 50%, persentase lulusan S-1 yang menyelesaikan kuliah tepat waktu (4 tahun) mencapai 50%, dan persentase dosen ITB berkualifikasi doktor harus mencapai 70%.
Penjaminan mutu dengan sejumlah parameter tersebut dibutuhkan ITB untuk memastikan keberlangsungan ITB serta untuk menunjukkan kontribusi nyata dalam peningkatan daya saing bangsa.
**

MENYANGKUT dengan pelaksanaan SPMB 2006, Adang mengatakan, cama harus pandai untuk mengatur strategi agar dapat diterima prodi yang diminatinya. Sejumlah strategi tersebut diantaranya, memerhatikan jumlah peminat suatu prodi pada PT tertentu. Pasalnya, kata Adang, jika pada pilihan pertama dan kedua, cama program IPA mencantumkan PT yang peminatnya sangat tinggi, maka ada kemungkinan dia akan gagal SPMB. Sebagai contoh, jika pilihan pertama adalah Arsitektur ITB (daya tampung 2006, 50 orang, peminat pada SPMB 2005, 960 orang) pilihan kedua harus ditempatkan pada PT dengan peminat yang lebih rendah, misalnya arsitektur di Undip (daya tampung pada 2006, 70 orang, peminat pada SPMB 2005, 591 orang).
Strategi pemilihan prodi dan PT ikut pula menentukan peluang cama lolos SPMB. Karena itu, jika ingin lolos SPMB, pada pilihan pertama cantumkan prodi yang diminati pada univeritas yang peminatnya tinggi dan pada pilihan kedua, universitas yang peminatnya lebih rendah.
Tambahan pula, bagi yang fanatik terhadap PT tertentu, seperti ITB, Adang menyarankan cama untuk mengambil prodi/fakultas yang peminatnya rendah. Misalnya, cama yang memilih FKITM punya peluang lebih besar untuk diterima di ITB daripada cama yang memilih Fakultas Teknik Elektro dan Informatika.
Tetapi, jika cama fanatik dengan prodi dan PT tertentu, maka jangan memilih PT yang sama-sama memiliki peminat tinggi.
Karena itu, salah menerapkan strategi bisa berakibat tidak lulus SPMB.
Namun, terkait dengan sejumlah perubahan yang telah dilakukan ITB, di antaranya pembukaan program mayor dan minor pada 2008 mendatang, cama tidak perlu khawatir lagi dengan prodi mana yang akan dipilih. Pasalnya, adanya fleksibilitas pada program mayor dan minor memberikan kesempatan bagi cama untuk kuliah pada prodi mana saja yang diminatinya. (Huminca/”Pikiran Rakyat”)*** 19 Juni 2006

Kamis, 01 Juli 2004

Bimbel Marak Saat SPMB

SETIAP tahun pasti ada masa ketika pusat bimbingan belajar (bimbel) kebanjiran siswa baru. Waktunya, kapan lagi kalau bukan menjelang SPMB.
Siswa SMA yang memiliki kemampuan finansial lebih, hampir dapat dipastikan bakal mengikuti bimbel ini. Tujuannya, tentu saja agar kesempatan lolos SPMB menjadi lebih besar. Pusat-pusat bimbel memang menjanjikan kesempatan yang lebih besar bagi siswanya untuk lulus SPMB, terutama mereka yang sudah mapan seperti SSC atau Ganesha Operation (GO).
Jika siswa tidak lulus SPMB, ada komponen uang pendidikan yang dijanjikan akan kembali.
Dengan janji seperti itu, ditambah lagi bukti di lapangan, telah semakin meningkatkan minat siswa untuk mengikuti bimbel. Seperti yang dikatakan oleh Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W. R beberapa waktu lalu, jumlah siswa SSC mengalami peningkatan sebanyak 23 persen dari tahun lalu. Untuk kelas intensifnya saja, SSC sudah menampung sekira 3.500 siswa. Sementara siswa GO di seluruh Indonesia saat ini telah menembus angka 45.000 orang.
Siswa yang mendaftar ke bimbel akan semakin ramai ketika SPMB semakin mendekat. Biasanya mereka mendaftar setelah lulus SMA agar lebih fokus mempelajari mata pelajaran yang diujikan di SPMB. "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Yandi.
Tidak hanya siswa yang baru lulus saja yang tertarik mengikuti bimbel, angkatan lama yang masih punya kesempatan mengikuti SPMB juga tidak sedikit yang tertarik. Kelas untuk mereka biasanya disebut kelas alumni.
Kenapa siswa-siswa ini tertarik mengikuti bimbel? Pimpinan GO, Bob Foster memiliki jawaban yang cukup mewakili. Bob mengatakan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, merasa belum percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finansial yang lebih.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB, misalnya menjawab soal dengan cara cepat. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Dari seberang
Walaupun setiap tahun peserta SPMB selalu mengalami penurunan, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan jumlah peserta bimbel. Seperti dijelaskan Bob Foster, sulit untuk membuat korelasi turunnya peserta SPMB dengan peserta bimbel yang rata-rata konstan atau malah cenderung meningkat.
Bagi pusat bimbel seperti SSC dan GO yang berkantor pusat di Bandung, setiap tahun mereka selalu mendapatkan siswa dari luar daerah yang sengaja datang ke Bandung, hanya untuk mengikuti bimbel di kota ini.
Alasannya pun bermacam-macam, tapi selalu ada jawaban yang hampir mirip, bimbel di pusat akan lebih afdal dan terjamin. Tidak sedikit yang sengaja datang dari daerah seberang seperti Kalimantan atau Sumatera, padahal di kota-kota tempat mereka tinggal, GO dan SSC rata-rata sudah mendirikan pusat bimbel juga. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih meyakinkan, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujar Yandi W.R.
Lalu bagaimana dengan persaingan antarpusat-pusat bimbel? Mengenai persaingan, Bob Foster mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. (Zaky/"PR")*** - Pikiran Rakyat - 1 Juli 2004

Kamis, 24 Juni 2004

Meningkat, Siswa Ikut Bimbel

Meningkat, Siswa Ikut Bimbel
Terutama Mendekati Jadwal Ujian SPMB


BANDUNG, (PR).-Semakin mendekatnya jadwal ujian SPMB telah meningkatkan jumlah siswa yang mengikuti bimbingan belajar (bimbel). "Jumlah yang masuk setelah kelulusan lebih besar dari pada yang masuk sebelum kelulusan SMU," ujar Corporate Secretary Sony Sugema Group, Yandi W.R, beberapa hari lalu.
Yandi mengatakan, hingga saat ini jumlah siswa yang mengikuti kelas intensif di SSC telah mencapai 3.500 orang. Jumlah tersebut naik sekira 23 persen dari tahun lalu. Begitu pula dengan mereka yang masuk kelas alumni, yaitu kelas yang diperuntukkan bagi lulusan SMA tahun 2002 atau 2003. "Tapi jumlahnya masih lebih banyak yang lulus tahun ini," ujarnya.
Di SSC, komposisi siswa lebih banyak yang memilih kelas IPA dibanding IPS dan IPC. Para siswa juga tidak sedikit yang sengaja datang dari luar daerah seperti Medan, Jakarta, atau Kediri. "Mungkin mereka menganggap bila ikut bimbel di SSC pusat akan lebih yakin, padahal di kota-kota itu sendiri sudah ada SSC," ujarnya.
Sementara itu, pimpinan pusat bimbingan belajar Ganesha Operation (GO), Bob Foster mengatakan, penurunan jumlah peserta SPMB setiap tahun tidak berkorelasi secara langsung dengan jumlah peserta bimbel. Menurutnya, hingga saat ini siswa GO di seluruh Indonesia mencapai 45 ribu orang dan setiap tahun relatif konstan jumlahnya.
"Penurunan jumlah peserta SPMB tidak berarti terjadi juga penurunan siginifikan terhadap siswa bimbel, karena sejak dulu pun tidak semua (352 ribu orang peserta SPMB tahun lalu--red.) ikut bimbel. Yang ikut bimbel relatif konstan saja, jadi tidak berkorelasi langsung bahwa peserta SPMB turun lantas peserta bimbel ikut turun," jelasnya.
Ia melanjutkan, mereka yang ikut bimbel adalah siswa-siswa yang merasa perlu tambahan pelajaran, belum merasa percaya diri dan yang pasti memiliki kemampuan finasial yang lebih. Karena itu, pihak penyelenggara bimbel pun berani menjanjikan kelulusan atau setidaknya menjanjikan peluang kelulusan yang lebih besar bagi siswanya.
Ia mengatakan, melalui bimbel, siswa akan mendapat tambahan pelajaran, sebagaimana juga mendapat tambahan menggunakan strategi yang efektif untuk menghadapi SPMB. Karena bagi lulusan SMA, SPMB itu sendiri sebenarnya masih merupakan misteri. "Kalau mereka tidak memiliki strategi tentu peluangnya akan semakin kecil," ujarnya.
Strategi pertama yang harus dimiliki siswa, ujar Bob, adalah pemahaman tentang persyaratan administrasi, seperti pengisian formulir hingga cara menghitamkan kode pada lembar jawaban. Berdasarkan data yang ia ketahui dari Puskom Universitas Indonesia, ternyata banyak kesalahan yang dilakukan peserta SPMB yang berakibat fatal misalnya, pilihan perguruan tinggi yang berada di luar regionalnya atau lupa mengisi kode nomor ujian. "Kalau gagal administratif, akan gagal semua," ujarnya.
Strategi kedua adalah, siswa harus paham materi uji SPMB. Menurut Bob, ada pelajaran-pelajaran dan mata uji yang tidak secara khusus diajarkan di sekolah, misalnya IPA Terpadu atau IPS Terpadu. Pusat bimbel mengambil kesempatan ini, dengan memberikan materi tersebut kepada siswanya, disertai trik dan cara mengerjakannya secara cepat. "Ada soal-soal tertentu yang mengerjakannya harus secara khusus agar kita langsung tahu jawabannya. Memang tidak semua soal seperti itu, tapi lumayan banyak," jelasnya.
Stategi ketiga menurut Bob adalah tentang pemilihan jurusan. Sebab, dalam SPMB peserta sudah harus menentukan jurusan yang dipilihnya sebelum ujian dilakukan. "Karena itu harus ada yang membimbing mereka untuk memberikan arahan. Saya tidak melihat hal seperti itu dilakukan di sekolah," ujarnya.
Mengenai persaingan antara pusat bimbingan belajar, Bob mengatakan, hal itu harus dipandang secara positif. Bagi siswa, dengan semakin banyaknya pusat bimbel akan menguntungkan karena mereka mendapat banyak pilihan. Sementara untuk pengelola bimbel sendiri, dengan munculnya pesaing akan memacu diri mereka untuk menampilkan dan menawarkan yang terbaik. "Kalau tidak ada pesaing, bagaimana kita akan terpacu untuk meningkatkan pelayanan," ujarnya. (A-132)*** - PIKIRAN RAKYAT - Kamis, 24 Juni 2004

Minggu, 18 Mei 2003

Secercah Harapan di Tengah Krisis

...Apakah Anda akan menunggu saja datangnya penghasilan sambil mengharap situasi aman, ataukah akan mengejarnya dan menemukan tempat persembunyiannya di tengah situasi konflik sekalipun.... (diolah dari Intisari Kewiraswastaan)
KATA-KATA terakhir itulah yang dilakukan Lalita Thongngamkam, wanita muda Thailand, saat memulai usaha restoran di negara-negara konflik beberapa tahun silam. "Ketika sebuah negeri mengalami gejolak, saya justru tertarik ke sana," ujar Thongngamkam sebagaimana dikutip harian The Asian Wall Street Journal edisi 9-11 Mei.
DAN berpuluh tahun kemudian, Thongngamkam membuka usaha restoran makanan Thailand di Kabul, ibu kota Afganistan. Terakhir, dia siap-siap membuka cabang di Baghdad, Irak. "Irak mungkin saja menjadi target saya berikutnya, terutama apabila militer Amerika Serikat memberikan wewenang kepada PBB untuk mengatur dan membangun kembali negeri itu," ujarnya di Kabul.
Thongngamkam berada di sebuah negeri yang bergejolak sejalan dengan kehadiran badan PBB di sana. Kehadiran pasukan dan pejabat PBB, pekerja sosial, kontraktor bangunan dan sarana umum, merupakan peluang yang sangat besar bagi usaha jasa makanan. Karenanya, restoran Thailand milik Thongngamkam ini ada di Kamboja, Somalia, Rwanda, Timor Timur, Kosovo dan kini Afganistan.
Dalam bobot yang lain beberapa anak muda Indonesia juga ada yang berbuat "nekat" seperti Lalita. Mereka tetap gigih berusaha atau mempertahankan aktivitas bisnisnya di tengah situasi perekonomian Indonesia yang tertatih-tatih. Sebut saja Sony Sugema (38), pemilik PT Quantum Global (Q-College), PT Sony Sugema Eduka, Sony Sugema College (SSC), dan Ketua Yayasan Tunas Informatika, yang membawahi Sekolah Tinggi Teknologi Informatika Sony Sugema.
Bidang yang digelutinya pendidikan terutama bimbingan belajar. Khusus SSC hingga kini sudah memiliki 46 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah siswa SSC mencapai 25.000 orang, dengan staf pengajar seluruhnya 600 orang.
Atau Diono Nuryadin (40), Vice President PT JAS, perusahaan yang antara lain bergerak di bidang servis cargo ke penerbangan asing. Ia juga mengendalikan keuangan kelompok usaha Bimantara, di mana ia menjabat direktur keuangan. Selain itu Hotasi Nababan (38), Direktur Utama Perusahaan Penerbangan Merpati, Pramono Anung (40), pengusaha sekaligus pemilik lima perusahaan pertambangan yang juga Wakil Sekjen PDI Perjuangan, serta Arif Yunara (27), pemilik bengkel motor di Bandung yang mengerjakan sejumlah montir.
Aktivitas bisnis anak-anak muda itu tetap eksis walaupun awan gelap krisis masih menyelimuti republik ini. Bagai secercah titik terang di tengah kegalauan bangsa, mereka berupaya tampil ke depan memimpin usaha, mempertahankan, atau menjalankan roda perusahaan sekaligus menghidupi banyak orang. Terlepas dari perusahaan itu warisan atau dibangun sendiri, paling tidak mereka masih memancarkan sinar yang lain di tengah keredupan ekonomi republik ini.
Mungkin masih banyak kegiatan usaha anak-anak muda lain yang tidak terliput. Akan tetapi, kalau mengamati semaraknya aktivitas mereka, sepertinya tidak terasa bahwa mereka berada di dalam situasi krisis. Apakah itu merupakan tanda-tanda membaiknya perekonomian?
Pembangunan fisik di DKI Jakarta, sekadar menyebut sebuah contoh, mulai menggebu. Jakarta Outer Ring Road (JORR) yang dulu suka dipelesetkan sebagai jalan ora rampung-rampung, mulai dikerjakan. Belasan flyover, underpass dan jalan akses di Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, Tangerang, dan Cibubur sedang giat dirampungkan. Sejumlah bangkai bangunan setengah jadi dilanjutkan. Beberapa mega proyek properti juga tengah dikerjakan.
Tentu sangat berlebihan jika disebutkan bahwa pembangunan JORR, jalan layang, terowongan, dibangunnya kembali banyak kompleks perumahan dan gedung-gedung pencakar langit langsung disebutkan sebagai indikasi berhentinya krisis ekonomi.
Akan tetapi, pembangunan berbagai proyek properti dan infrastruktur tersebut bisa disebutkan sebagai sinyal paling awal bagi perbaikan ekonomi nasional. Sebab, menurut pengalaman, properti yang selalu paling awal memberi sinyal bagi kejatuhan perekonomian sebuah negara dan properti pula yang paling cepat memberi sinyal kebangkitan perekonomian. Jadi, bisalah, berbagai pembangunan fisik itu sebagai sinyal awal menyehatnya perekonomian nasional.
Indikator lain yang bisa menjadi parameter mulai membaiknya perekonomian ialah perkembangan sektor ritel yang amat cepat. Mal-mal, pusat-pusat perbelanjaan modern, ruko, perumahan berbagai tipe, apartemen, dibangun di mana-mana. Selain di Jakarta, tampak pula di Bandung, Makassar, Medan, dan terutama Surabaya.
SINYAL-sinyal itulah yang ditangkap Arif. Setelah empat bulan bekerja di sebuah perusahaan asing, Agustus 2001 dia memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Ia berani beresiko meninggalkan pekerjaan di luar negeri yang dari sisi ekonomi sebenarnya cukup menjanjikan. Seperti kata Aristoteles, filsuf Yunani, anak muda selalu berpikir bahwa mereka tahu segala sesuatu dan yakin pada pernyataannya.
Dengan modal awal 95 juta rupiah, Arif membuka bengkel di Jalan Dipatiukur Bandung, Oktober 2001. Selama enam bulan, Arif banyak belajar dari bengkel-bengkel lain. Selain bertukar pikiran, Arif pun banyak menelepon bengkel lain untuk mengetahui tarif jasa dan harga onderdil motor.
Setelah berjalan satu setengah tahun, Arif kini bahkan telah mampu membuka satu bengkel lagi. Bengkelnya yang satu lagi terletak di Jalan Pahlawan, Bandung. Pegawainya pun akan bertambah satu lagi menjadi enam orang.
Bengkelnya pun banyak didatangi pengunjung. Setiap hari antara 20 sampai 30 orang pelanggan datang ke bengkelnya. Tidak semua yang datang bertujuan untuk memperbaiki kerusakan motornya, ada juga yang membeli onderdil atau sekadar mengobrol dengan montir di bengkel tersebut. Arif tidak pernah melarangnya.
Dia bahkan membiarkan pemilik motor belajar memperbaiki motornya sendiri dan memberikan tips-tips kecil yang berguna bagi pemilik motor. Selain itu, Arif pun memberikan garansi bagi pemilik motor. Apabila motor yang telah diperbaiki di bengkelnya ternyata masih kurang memuaskan, Arif bersedia memperbaiki kerusakannya tanpa dipungut biaya lagi.
Omzet untuk satu bengkel Arif per minggu berkisar antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Untuk gaji karyawan di satu bengkelnya, per minggu Arif menghabiskan dana Rp 1 juta. Dengan demikian, dia masih mampu beroleh keuntungan antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta setiap minggunya.
Penghasilan sebesar itu, kata Arif, sangat jauh dibandingkan ketika dia masih bekerja di perusahaan multinasional. "Gaji saya sebulan setara dengan gaji pokok direktur Bursa Efek Jakarta," kata Arif. Kendati bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji tinggi dan sempat dikirim ke Malaysia, Cina, dan Amerika Serikat (AS), Arif mengaku belum menemukan kecocokan.
Sekarang, aku Arif, dirinya menemukan kepuasan tersendiri. Selain dapat membagi rezeki yang dia punya dengan orang lain, dia pun dapat bergaul dengan banyak orang dari banyak kalangan.
Kunci sukses Arif terletak pada keseriusan, kegigihan, dan kemauannya untuk belajar. Arif tidak pernah malu untuk bertanya dan bahkan dia mengaku memiliki komunitas tersendiri. Seluruh anggota komunitasnya merupakan anak-anak muda yang memiliki usaha sendiri.
Sebenarnya, kata Arif, banyak anak-anak muda seperti dirinya yang memiliki kemauan dan kemampuan untuk berwirausaha. Sayangnya, mereka umumnya kesulitan dalam menentukan usaha apa yang akan mereka buat.
"Umumnya mereka bingung, apa yang harus mereka kerjakan pertama kali," kata Arif. Karena itu, Arif menganjurkan agar setiap kampus dan lembaga pemerintahan memiliki inkubator bisnis. Di tempat ini, kata Arif, para pelaku usaha yang baru akan diberikan informasi mengenai apa dan bagaimana usaha yang akan mereka jalankan.
"Di inkubator, mereka dapat memperoleh informasi yang selama ini mereka cari," kata Arif, yang juga salah satu pencetus konsep di inkubator bisnis ITB. Sejauh ini, sudah sembilan puluh perusahaan yang lahir dari rahim inkubator bisnis ITB. Usahanya umumnya berskala mikro atau memiliki omzet antara 0 hingga Rp 9 juta per bulan.
Di negara maju, kata Arif, inkubator bisnis semacam ini sudah banyak dibentuk dan cukup berhasil. Hal ini antara lain disebabkan kesadaran pemerintah di negara maju untuk mengembangkan industri kecil dan menengah cukup tinggi. Apalagi, 90 persen kontribusi pendapatan suatu negara sebenarnya berasal dari industri kecil dan menengah.
"Pemerintah seharusnya memberi perhatian khusus kepada industri ini karena memiliki potensi yang besar," kata Arif yang menghabiskan sebagian besar waktunya di lingkungan kampus. Lulusan Teknik Fisika ITB tahun 2000 ini sejak kuliah aktif berorganisasi di lingkungan kampus. Minatnya yang besar di bidang sumber daya manusia membuatnya sering diminta membidangi penelitian dan pengembangan yang banyak berhubungan dengan sumber daya manusia.
Hingga kini, ia aktif di Perhimpunan Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK). Beberapa kali menjadi koordinator di berbagai acara kampus sampai akhirnya dipilih sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Keluarga Mahasiswa (KM) ITB.
SONY Sugema mengaku mengawali karirnya sebagai "pengusaha" bimbingan belajar ketika duduk di kelas dua SMU Negeri 3 Bandung saat berusia 15 tahun. Ketika itu, ayahnya meninggal dunia sehingga Sony harus bekerja untuk menghidupi ibu dan keempat adiknya. Ia lalu memberi les privat kepada teman-teman sekelasnya.
"Soalnya saya nggak tahu harus ke mana nyari orang yang mau les privat. Saya tawarin ke teman-teman, mau nggak lima ribu sebulan. Ternyata beberapa teman saya mau," kata Sony. Dia memang dipercaya teman-temannya untuk mengajar, mengingat otaknya yang cerdas.
Setelah mengajar teman-temannya di SMU, Sony mengaku ketagihan mengajar dan merasa tertarik dengan dunia pendidikan. "Awalnya saya tertarik, ngajar itu kok enak. Terus, tiap minggu di SMU 3 ada try out dan pembahasan, itu gratis. Itulah awal mula saya terjun ke dunia bimbingan belajar," ujar Sony.
Tahun 1982, Sony lulus tes masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Teknik Sipil. Ketika dia masih tingkat satu, Sony memutuskan untuk menikah. Saat itu istrinya kuliah di jurusan Biologi ITB dan berumur sekitar tiga tahun lebih tua.
Setelah menikah, Sony merasa tanggungannya semakin banyak. Akhirnya, untuk menambah penghasilan, dia memutuskan untuk menjadi guru di SMU Angkasa Bandung. Ketika itu Sony mengajar pelajaran matematika, fisika, dan kimia untuk siswa kelas satu, dua, dan tiga.
"Setelah itu, saya bekerja sebagai pengajar di beberapa bimbingan belajar. Baru pada tahun 1990 saya memutuskan untuk membuka bimbingan belajar sendiri," kata Sony.
Cikal bakal Sony Sugema College (SSC) ini awalnya terletak di Jalan Dipatiukur. Modal awal pendirian bimbel ini hanya Rp 1,5 juta, yang diperoleh Sony dari pembayaran royalti buku-bukunya. Sony Sugema memang pernah menulis buku tentang pembahasan soal-soal UMPTN yang setiap tahun selalu diperbaharui.
Awalnya murid bimbingan belajar ini hanya 140 orang dan Sony satu-satunya pengajar. Uang sebesar Rp 1,5 juta itu, kata Sony, digunakannya untuk menyewa ruangan tempat belajar sebesar Rp 750.000 dan sisanya untuk membayar gaji karyawan. Bimbingan belajar ini awalnya hanya mengkhususkan diri sebagai bimbingan belajar intensif untuk menghadapi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).
Lama kelamaan, Sony merasa bahwa dirinya lambat laun tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya karena terlalu sibuk bekerja sebagai pengajar tunggal. Akhirnya, dia memutuskan untuk meminta teman-temannya dari ITB, UNPAD, dan IKIP (sekarang UPI) untuk membantunya mengajar di bimbingan belajar tersebut.
Tahun 1991, dia membuka cabang di Jakarta disusul cabang-cabang di seluruh Indonesia. Lembaga bimbingan belajar ini berhasil meluluskan 618 orang siswanya ke ITB. Jumlah ini, kata Sony, menunjukkan hampir separuh mahasiswa ITB merupakan lulusan SSC.
Ketika ditanya apa yang membedakan SSC dengan bimbingan belajar lain, Sony mengaku dia menerapkan dua sistem pengajaran. Sistem yang pertama, kata Sony, dia menciptakan sistem penyelesaian soal dengan cepat yang diklaim sebagai the fastest solution.
Fastest solution, kata Sony, adalah cara belajar agar pelajaran lebih mudah dipahami oleh siswa. Apabila siswa mudah memahami pelajaran, siswa akan lebih bersemangat untuk belajar.
Selain fastest solution, Sony juga memiliki metode lain, yaitu learning is fun. Dengan metode ini, kata Sony, siswa akan lebih bergairah dan bersemangat dalam mempelajari pelajaran-pelajaran yang selama ini dianggap menakutkan seperti matematika dan fisika.
"Sebelumnya banyak siswa yang geuleuh (tidak suka) sama matematika. Sekarang, dengan metode ini, kita membuat anak mencintai matematika," kata Sony.
Dengan kedua metode pengajaran tersebut, mau tidak mau pengajar yang berminat untuk menjadi guru SSC harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya, selain menguasai bahan pelajaran yang akan diajarkan, pengajar juga tidak boleh terlalu serius dan dapat diterima oleh siswa.
Sebelum menjadi pengajar pun, kata Sony, mereka harus melewati beberapa tes. Ujian yang pertama adalah tes tertulis untuk mengetahui seberapa jauh calon pengajar menguasai materi pelajaran yang diajarkan. Setelah itu, mereka diharuskan melakukan simulasi mengajar di depan guru-guru SSC. Setelah magang selama tiga bulan, barulah calon pengajar tersebut diangkat menjadi pengajar tetap.
Gaji yang diterima para pengajar cukup memadai, berkisar antara Rp 20.000 hingga Rp 50.000 setiap jam mengajar. "Kita kan harus memperhatikan kesejahteraan guru-guru," kata Sony.
Selain berkat doa dan kasih sayang ibu, Sony mengaku salah satu kunci kesuksesannya yang lain adalah dia berani untuk gagal. Kelemahan yang terdapat pada sebagian besar anak muda, kata Sony, adalah karena sebagian besar dari mereka takut gagal. Padahal, kata Sony, dengan kegagalan kita bisa belajar banyak
"Perusahaan besar saja pernah gagal. Namun, umumnya orang tidak pernah melihat kegagalan sebelum kesuksesan yang mereka raih sekarang," kata Sony. Dia juga menilai anak muda sekarang umumnya tidak mau bersakit-sakit dalam memulai suatu usaha.
Sony memang berhasil mengembangkan bisnisnya-yang semuanya masih di bidang pendidikan-hingga menjadi empat perusahaan.
Tidak heran jika dia menerima penghargaan dari ITB sebagai Penghargaan Alumni ITB Berprestasi tahun 2002 dalam bidang industri. Sebelumnya, Sony memperoleh penghargaan Citra Top Executive Indonesia tahun 1997 dan 50 Enterprise Semangat Wirausaha Indonesia dari majalah SWA dan Accenture.
Serius dan berkemauan keras memang salah satu falsafah hidupnya. Hasilnya, dia sukses pada usia muda. Pepatah mengatakan, di mana ada kemauan di situ ada jalan. (B11/dmu) - KOMPAS - Minggu 18 Mei 2003


Sumber : http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/18/Fokus/314400.htm